FRAMING “SABBE SYNTHESIST”

sabbe synthesist 5

Awalnya, sekiranya dua tahun lalu saat masih hanya sekedar melihat sarung sutera Sengkang yang sebenarnya sudah sejak lama mendengar gaung Lipa’ Sabbe yang khas, lalu terbersit untuk meneliti dan menggelar sebuah pameran untuk sarung khas itu.

November hingga Januari menjadi pengalaman pertama Laborartorial Management melakukan kajian lapangan demi gelaran pameran yang mampu lebih mendekatan audiens seninya. Pengamatan selama tiga bulan lamanya, mengamati langsung kerumitan, kekejatan, dan kesabaran para pemerhati, pelaku, dan penggiat sarung sutera di Tanasitolo dan Sabbangparu. Sebelumnya, di akhir Oktober, tim kami melakukan observasi awal yang sempat mengendorkan semangat. 

Namun berkat seorang penenun, tante Wati, dan seorang pemerhati, kak Anida, yang dengan senang hati menyambut dan mengarahkan kami kepada kenalan-kenalan beliau, bahkan sampai memanggil kembali semangat tua yang sudah menggantung peralatan tradisionalnya karena tak lagi ada permintaan seperti pada masa lalu.

sabbe synthesist 2

Sarung sutera merupakan sebuah pengesah strata sosial dalam identitas manusia bugis.

Hari pertama kami datang berlagak sok peneliti, dan tanpa duga telah dinanti oleh para “penenun legend” sebut kami. Diarahkan dan didampingi langsung ke rumah teman beliau yang masih mengiyakan kemauan kami kala itu. Membongkar sambil mendongengkan tentang “walida” dan “mappagiling,” makin membuat keingintahuan memuncak menuju skala termotivasi.

Di hari lain, dijamu oleh pemerhati benang sutera, pun menghadirkan kembali kenangannya dalam mengembangbiakkan ular sutera yang sungguh merepotkan itu. Dimulai dari penetasan, kemudian, makan, bangun, tidur selama lima kali berturut-turut tanpa merah, sampai diberi semacam bedak layaknya bayi.

sabbe synthesist 3

Tak mampu memang kami menceritakan semuanya pengalaman yang tak terlupakan itu. Kini karena itu, kami akan hadirkan sebuah “alam sabbe” versi kami tentunya pada 2 Mei 2017 (Pameran Seni Rupa Sabbe Synthesist). Namun sebelum itu, biarkan sedikit, kami melanjutkan kebanggaan ini.

sabbe synthesist laborartorial 2sabbe synthesist laborartorial

SEBUAH PRAKATA DISKURSUS

Dari beberapa penelitian, terutama Pelras (1984) ditemukan bahwa etnis (bangsa) Bugis merupakan salah satu bangsa perantau (selain Melayu, Sumatra, Jawa, Makasar, dan Bali) yang menetap di berbagai wilayah di Nusantara. Sebagai etnis yang kreatif (Deutro Melayu) karena berada pada jalur perdagangan Cina-India, menjadikannya mampu dengan cepat beradaptasi dengan wilayah lain sehingga berkembang dengan pola dan sistem sosial sendiri dimana tercermin pada bentuk perkembangan kerajaannya, yakni Luwu sebagai pusat awal peradaban; meskipun jauh sebelum itu sudah ada, “Wewang Nriwu”, “Tompo’ Tikka”, dan “Cina” sebagai tiga kerajaan inti pada masa lampau.

Dikenalnya etnis Bugis oleh bangsa-bangsa lainnya karena keterampilan menenun yang dimilikinya, bahkan menurut beberapa tulisan telah dimulai sejak abad IV. Raffles dalam bukunya The History of Java tak luput menuliskan bahwa suku Bugis merupakan pelaut ulung dengan umumnya barang-barang dagangan di dalam kapal berupa opium, emas, dan kain, dengan reputasi sebagai peagang-pedagang yang terhormat dan terbuka.

Meski pada awalnya dimanfaatkan sebagai pakaian keseharian, pun kemudian pada perkembangannya tenunan bugis ditemukan dengan motif kotak-kotak diwarnai merah dicampur biru, dimana lebih lanjut digunakan sebagai tanda penghargaan pada pernikahan atau keluarga, lalu diperdagangkan.

Sebagai etnis yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan etnis lain Nusantara dengan keterampilan lokalnya, tenun menjadi sebuah tanda pengenal tersendiri dalam makna filosofisnya pada tiap corak atau motif yang melekat pada sistem strata sosial-adat manusia Bugis. Sehingga prinsip-prinsip seperti: macca, malempu, warani, dan magetteng tidak hanya menjadi slogan semata melainkan menjadi nilai hidup dalam budaya sosial.

Tenun bugis secara hipotesis sejarah sosial, pada akhirnya mempengaruhi etnis lain dengan lahirnya jenis kain lainnya. Namun perlu dicatat yakni, adanya pola stratifikasi dalam masyarakat masa lalu karena meyakini bahwa bangsawan adalah keturunan langsung dari Dewata yang punya hak untuk memerintah keseluruhan masyarakat. Dengan sistem tersebut, tenun menjadi salah satu alat pengesah strata sosial tersebut.

Kesakralan, kekuasaan, dan kekayaan merupakan ikatan yang secara terbuka dan turun-temurun menjadi sebuah sistem dalam masyarakat bugis. Etnis Makassar, Toraja, dan Mandar yang memegang jalur perdagangan memiliki perbedaan dan persamaan yang khusus pula dimana mempengaruhi perkembangan tenun bugis. Dengan kata lain bahwa, tenun memiliki kaitan dengan keseharian, upacara adat, dan perdagangan sehingga terkait erat dengan makna kehidupan.

Tampaknya memang, tenun sebagai identitas pribadi memberikan pengaruh besar pada perkembangan pola sosial dan perekonomian masyarakat bugis kini, terutama Sengkang di Wajo sebagai pusat sarung sutera di Indonesia.

Lipa’ Sabbe, sebagaimana sarung sutera disebut pada masyarakat Bugis Wajo, telah mengakar sejak lama dalam kehidupan masyarakat di Sengkang, khususnya di Tosora. Dari teknik gedogan sebagai teknik tradisional, hingga Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan Alat Tenun Mesin (ATM) dalam industri tekstil, merupakan eksplorasi pengembangan masyarakat sekitar atas modernisasi. Dengan demikian, hal tersebut seharusnya dikaji lebih dalam oleh para akademisi dan atau lembaga-lembaga yang memiliki kapabilitas didalamnya.

Hal-hal yang dimaksud yakni berupa penelitian dalam bentuk data koleksi sejarah, makna filosofis, serta tenun tradisi guna pengkajian lebih dalam untuk perumusan produksi dan distribusi yang lebih kreatif sehingga mampu bersaing dalam pasar komoditi global. Di samping itu pula, penting bahwa data langsung teknik tenun tradisional didokumentasikan dengan baik sebagai local genius yang perlu untuk dipahami oleh semua generasi muda pada identitas ide global kontemporer.

#sabbesynthesist

re-blog from laborartorial.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s